Senin, 22 Maret 2010

Tahukah Anda?


Oleh Dr. Damayanti Soetjipto, Sp.THT


BISING DI MAL SANGAT TINGGI PENYEBAB KETULIAN PADA ANAK BALITA ….. Bahwa BISING ditempat permainan anak-anak di mal misalnya TIME ZONE, FUN STATION cukup tinggi yaitu 90-95 decibel …………….. Berarti bahwa anak-anak tersebut hanya boleh berada ditempat tersebut sekitar 1-2 jam. Lebih dari itu akan terjadi kecapean koklea yang akan menyebabkan gangguan pendengaran menetap.

PEMAKAIAN IPOD BERLEBIHAN PENYEBAB KETULIAN PADA REMAJA …. Bahwa pemakaian iPod yang BERLEBIHAN dapat menyebabkan ketulian …. telah terjadi pada beberapa remaja yang memakai iPod dari Bangkok ke Jakarta dan dari Amerika ke Jakarta, begitu sampai Cengkareng menjadi tuli dengan derajat ketulian 110 decibel (normal pendengaran kita adalah 30-42 dB). ………….Pengobatan hanya mengembalikan menjadi 55 dB (termasuk ketulian derajat sedang-berat) dan tidak kembali normal ………….. Hati-hati dong, sayangi telingamu !!

Di Amerika Serikat didapati 28 juta menderita gangguan pendengaran yang diperkirakan meningkat menjadi 78 juta di tahun 2030. Anak-anak terpapar bising akibat pemakaian walkman, iPod, musik yang keras, TV yang lebih besar dan lebih keras sehingga didapati 5,2 juta anak Amerika usia 6-19 tahun menderita gangguan pendengaran, disebut sebagai iPod generation.

Selanjutnya diperkirakan anak-anak ini akan mengalami tuli orang tua (presbikusis) yang seharusnya dialami orang tua umur 60-70 tahun akan dialami anak-anak ini di usia lebih awal yaitu 40 tahun dimana mereka masih sangat harus produktif ….. duh kasian sekali, apa kita juga akan mengalami hal sama??

BAGAIMANA MENCEGAHNYA ? CEGAH dan KURANGI KEBISINGAN SEKARANG JUGA!!!

ANGKA GANGGUAN PENDENGARAN & KETULIAN DI INDONESIA TINGGI Bahwa data WHO, tahun 2000 ada sejumlah 250 juta (4,2%) penduduk dunia dengan gangguan pendengaran dan sekitar 75 - 140 juta (50%) berada di ASIA TENGGARA
Indonesia cukup dominan, yaitu nomer 4 di Asia Tenggara sesudah Sri Lanka (8,8%), Myanmar (8,4%) dan India (6,3%) dan Indonesia (4,6%) – dari WHO Multicenter Study (1998).
Dari Survai Nasional 7 propinsi di Indonesia tahun 1994-1996, gangguan pendengaran 16,8% atau 35,28 juta penduduk dan ketulian 0,4% atau 840.000 penduduk. Setiap tahun diperkirakan lahir 5000 bayi tuli di Indonesia.

CONGEK BISA BERBAHAYA Bahwa congek yang terjadi pada anak umur 2-3 tahun dapat mengganggu proses belajar bicara, anak dapat menjadi ANAK TUNA RUNGU ....... anak akan sulit sekolah, tidak dapat berkomunikasi dan akhirnya menjadi anggota masyarakat yang perlu bantuan, beban keluarga, beban masyarakat, negara dan bangsa. Dan jika terlambat berobat dapat menimbulkan komplikasi berbahaya seperti radang otak, mulut mencong, cacat bahkan kematian.

GANGGUAN PENDENGARAN & KETULIAN PERLU MENDAPAT PERHATIAN Bahwa prevalensinya tinggi, mempunyai dampak luas dan berat karena menyebabkan gangguan perkembangan kognitif, psikologi dan sosial, sehingga terjadi gangguan perkembangan komunikasi, bahasa & prestasi sekolah, tidak mampu bersosialisasi, berperilaku emosionil (cepat marah & stres) ..... akhirnya menjadi manusia dengan kualitas SDM rendah dan kesempatan kerja rendah pula .................... dan sampai saat ini penanganan belum maksimal !

APA SAJA PENYEBAB KETULIAN YANG DAPAT DICEGAH ? 5 penyakit penyebab ketulian yang dapat dicegah adalah : 1) Congek (OMSK); 2) Tuli sejak lahir (Kongenital); 3) Tuli akibat bising; 4) Tuli orang tua (Presbikusis) dan 5) serumen (kotoran telinga).

Congek terjadi karena anak sering mengalami infeksi saluran nafas atas, gizi rendah dan kemiskinan; Tuli sejak lahir terjadi akibat mudahnya mendapat obat keras saat kehamilan, kurangnya pengetahuan dan penyakit yang terjadi saat hamil; Tuli akibat bising terjadi akibat pemaparan bising melebihi kemampuan alat pendengaran (koklea), biasa terjadi pada pekerja industri, akibat modernisasi dan kemajuan industri, gaya hidup (pemakaian iPod yang berlebihan); Tuli orang tua terjadi karena proses alami yang akhir-akhir ini angkanya meningkat karena usia harapan hidup juga meningkat.

Dari penelitian di beberapa SD berbagai kota di Indonesia, ternyata angka kotoran telinga pada anak-anak ini berkisar 30-50%. Apakah orang tua jaman sekarang terlalu sibuk sehingga tidak sempat membersihkan telinga anak-anaknya ataukah terlalu jorok ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar